Awal Mula Cerita Samurai Jepang

  • Bagikan
Awal Mula Cerita Samurai Jepang
Samurai melegenda dalam sejarah Jepang, dengan kelas samurai yang... dan cerita rakyat Jepang, yang telah digambarkan di banyak media.

Taira no Masakado: Awal Muasal Cerita Samurai Jepang

Sinopsis Awal Mula Cerita Samurai Jepang

Para Sejarawan menganggap Jepang pada abad ke-10 adalah sebuah negara yang primitif, banyak konflik antar para samurai yang di dalangi para tuan tanah. Nama Taira no Masakado sangat di kenal, bahkan di dewakan oleh masyarakat Jepang karena sifatnya yang bertanggung jawab dan berjiwa kesatria. Kojiro, nama masa kecil Masakado, adalah seorang yang kemudian berkuasa di Shimosa dan pernah sepuluh tahun menjadi pelayan di Ibukota Kyoto.

Sifat garang dan kejam yang di miliki Masakado, seperti yang Eiji Yoshikawa tulis bukan tanpa latar belakang sejarah. Kejadian tersebut bermula saat Masakado di tolong oleh seorang perempuan, anak dari pembuat baju perang. Niatnya untuk bertemu para pamannya selepas ia datang dari Ibukota malah membuatnya terluka dan hampir tewas. Kikyo, nama gadis tersebut, kemudian ia sunting. Kebahagian yang Masakado dapatkan mulai terusik saat para pamannya dan daimyo menyerang kembali keluarganya.

Tokoh Samurai Jepang

Buku dengan tebal enam ratus halaman ini banyak menyajikan cerita dengan banyak tokoh, agar tidak membuat pembaca bingung, saya tampilkan nama-nama penting dari novel ini.

  1. Kojiro: Tokoh utama, berasal dari Bando desa Toyoda kota Shimosa
  2. Yoshimochi : Mendiang ayah Kojiro
  3. Ezohagi : Abdi perempuan
  4. Ebisu : Ayah dari Ezohagi si abdi dalem
  5. Urando : Abdi dalem penjaga peternakan kuda
  6. Kunika : Paman tertua Kojiro yg paling angkuh
  7. Yoshikane : Paman kembar dari Kojiro
  8. Yoshimasa : Paman kembar dari Kojiro
  9. Inukai no Yoshitsugu : Pegawai penjara
  10. Tadahira : Menteri Ketiga (Tuan dari Kojiro) orangnya peragu, licik dan angkuh
  11. Kujo Morosuke : anak sulung Tadahira
  12. Mototsune : Ayah dari Tadahira
  13. Omiga : Ketua pelayan
  14. Joheita Sadamori : anak sulung Kunika
  15. Shigemori : anak bungsu Kunika
  16. Hidesato : Inspektur Shimotsuke negeri timur
  17. Putri Aiko : nama lain dari Putri Ajisai (istri simpanannya Tadahira)
  18. Fujito : Ketua Bandit
  19. Sumitomo : Bandit dan sepupu Tadahira
  20. Kusabue : Pelacur daerah Eguchi
  21. Nashimaru : saudara sepersusuan
buku eiji - masakado
Cerita Samurai Jepang

Masakado Kecil dan Abdi Perempuan

Selepas mendiang ayahnya meninggal, Kojiro hidup sendirian dengan para abdinya. Salah satunya bernama Ezohagi. Ia abdi perempuan, anak dari Ebisu. Ezohagi mendapatkan siksaan yang teramat besar saat ketahuan bercumbu dengan Kojiro. Perlakuan berbeda didapatkan Kojiro. Oleh ketiga pamannya, ia tak diberitahu sama sekali sebab musabab diusirnya Ezohagi. Di Dalam lubuk hatinya, Kojiro yang merasa kesepian sepeninggal ayahnya jarang-jarang pulang ke rumah. Ia banyak menghabiskan waktu di peternakan kuda bersama Urando, abdinya yang khusus mengurusi peternakan kuda.

Tanah dan Para Abdi

Sesuai dengan sub judulnya, Yoshimochi dalam surat wasiatnya tidak menyertakan abdi atau budak yang ia miliki sebagai harta. Ia hanya menuliskan tanah dan kuda saja, hal ini menarik karena di zaman itu, barometer kekayaan seseorang selain dilihat luasnya tanah dan jabatan, budak menjadi faktor yang menguntungkan, ia dapat dipergunakan untuk membeli barang dan jasa. Kojiro, anak empat belas tahun itu tidak terlalu memikirkan harta warisan mendiang ayahnya, ia hanya menginginkan Ezohagi kekasihnya itu.

Penulis mengenalkan kepada pembaca bahwa tokoh utama ini seorang yang penuh nafsu, alias mesum. Kojiro dalam beberapa adegan bersetubuh dengan Ezohagi tanpa harus malu, terlebih mereka berdua belum menikah.

Scene ini membuka perjalanan Kojiro keluar dari rumah. Atas instruksi paman Kunika, Ia membawa Kuda coklat kebanggan mendiang ayahnya untuk dikawinkan ke Yokoyama.

Masakado Diusir Para Pamannya Cerita Samurai Jepang

Namanya Kageyuki, pejabat kecil yang menetap di lereng gunung Tsukuba. Ia adalah bawahan Kunika, pamannya Kojiro.

Mereka berdua bertemu di jalan, Kageyuki yang sopan dan berilmu itu menawari cara curang ke Kojiro agar kuda yang ia bawa dikawinkan saja ke peternakan terdekat. Agar aman, Kageyuki mengutus pengawalnya ke Yokoyama mengabarkan bahwa Kojiro sudah mengawinkan kudanya.

***
Pada scene ini, Kojiro mulai percaya jika instruksi pamannya itu sebenarnya untuk membunuh dirinya. Semakin menguatkan perkataan Ezohagi.
***

Penghujung fajar di musim salju, ia melihat kekasihnya Ezohagi mati terkapar di dalam parit. Darah mengucur dari kepalanya, tubuhnya bak burung dara yang ter pongkeng di panggangan. Selepas kejadian tersebut, ketiga pamannya menyuruhnya ke Ibukota untuk belajar menjadi manusia dewasa. Meninggalkan sifat kekanak-kanakannya serta pantang pulang sebelum dapat dibilang bangga oleh mendiang ayahnya.

Penilaian awal saja, saya merasa tokoh utama kita ini memang geblek; bengal; tak mau diatur dan cengeng. Bisa saja instruksi ketiga pamannya itu memang tulus dalam rangka keponakannya menjadi lelaki dewasa yang kelak memimpin klan ayahnya. Atau memang benar kecurigaan di awal cerita benar terjadi, bahwa ketiga pamannya ingin membunuh Kojiro secara perlahan dan menguasai harta warisan.

Maskado Sampai di Ibukota

Sesampainya di Ibukota, ia kena sial saat ditipu oleh biksuni. Ia mengira biksuni yang ia beri nasi kepal atas imbalannya mengantarkan ke rumah Tuan Tadahira itu orang baik. Tak disangka malah ia di jual sebagai abdi/pelayan/budak.

Ia dan beberapa orang yang mabuk didekat api unggun tertangkap razia dari polisi malam. Atas kelakuannya itu, Kojiro tidur di dalam penjara. Esoknya, ia bebas lantaran petugas mengetahui jika ia hendak bertemu tuan Tadahira lewat surat ia simpan di saku jaketnya. Ia di antar ke rumah Tadahira oleh detektif rendahan. Sesampainya di sana, ia tak cukup mendapatkan perlakuan baik dari tuan rumah.

Kojiro pertama kali datang berumur enam belas tahun, dan kini, ia sudah lima tahun menjadi pelayanan Tadahira. Ia sudah memasuki masa peralihan menjadi manusia dewasa, di umurnya yang sekarang, ia sudah di perbolehkan membawa pedang. Aktifitas kesehariannya adalah merawat kereta sapi majikannya. Mulai dari menyiapkan segala keperluan dan menunggu Tadahira pulang dari istana kekaisaran.

Keinginan kuatnya untuk belajar, ia buktikan dengan membaca buku sembari menunggu Tadahi keluar dari istana. Pada momen itulah, ia bertemu dengan keponakannya. Shigemori. Anak bungsu Kunika. Adik dari Sadamori ini menawarkan bantuan ke Kojiro lewat tuan Kujo Morosuke, anak dari Tadahari agar posisinya di perhatikan bahwa selama ini ia bukan saja pelayan rendahan, melainkan sepupu dari pejabat daerah dan keturunan keenam dari Kaisar Kanmu.

Kojiro buah pesan dari ayahnya

Naas, harapan hanyalah harapan. Kedua saudaranya itu enggan untuk menemui Kojiro buah pesan dari ayahnya.

Kojiro tidak mungkin pulang ke Bando. Ia masih belum menjadi lelaki dewasa, keahlian yang di milikinya pun kurang optimal. Ia tempa dirinya semakin keras, rajin bekerja dan disiplin. Sampai nasib mempertemukannya dengan Fujito, seorang bandit kelas kakap yang dulu ia temui pertama kali menginjakan kaki di Ibukota. Berkat Kojiro mengetahui Fujito dan kawan-kawannya yang hendak membawa kabur Putri Ajisai (Putri Aiko), Kojiro dengan Fujito menyusun pelbagai rencana yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kojiro sudah semakin matang, kini ia menjabat sebagai inspektur di Takiguchi. Ia mendengar kabar dari Sumitomo jika Fujito meninggal, kabar yang ia dengar, sahabatnya itu mati di dalam penjara saat berhasil di grebek oleh pasukan Sadamori atas perintah menteri sayap kiri, Tadahira.

Kojiro yang sudah merasa bosan bekerja di Ibukota memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Ia sudah kangen dengan kampung halaman; adik-adiknya, kuda-kuda dan mengurus keluarga. Saat itu, keadaan Ibukota cukup parah. Masyarakat banyak yang terkena di sentri dan kelaparan, di masa kekacauan seperti itu, Kaisar Daigo wafat, posisinya di gantikan Suzaku yang berusia delapan tahun di nobatkan sebagai Kaisar. Saat ia mengundurkan diri, Tadahira di angkat menjadi wakil kaisar.

Wisma Toyoda Cerita Samurai Jepang

Setibanya di Wisma Toyoda rumahnya, ia di sambut hangat dengan deru tangis adik-adiknya. Kojiro memeluk dan memegang tangan para adiknya yang sudah dewasa. Suasa ibu kita yang selalu berubah, kini tidak dengan desanya. Rumah yang sedari dulu ia tinggali, kini kosong. Ia merasa kesepian.

Para pamannya yang sewenang-weang ke adik-adiknya itu, juga mengambil tanah warisan, pelayan dan kuda. Hal tersebut membuat Kojiro marah besar. Ia sudah menuruti kemauan para pamannya agar ia ke Ibukota, namun balasan dari pamannya sangat menyakitkan. Ia berniat memberi para pamannya pelajaran.

Di awal kepulangannya, ia sempat menemui kedua pamannya, Yoshikane & Yoshimasa. Niat kedatangannya di dasari dendam dan menagih janji dari ayahnya agar mereka berdua menyerahkan tanah dan harta warisan yang menjadi hak nya dan adik-adiknya. Kenyataan tidak selalu baik, Kojiro malah mendapatkan perlakukan yang buruk. Ia kena hajar sampai babak belur dan di buang ke jurang atas kelakuan yg para pamannya anggap tidak sopan.

Balas dendam bukan jalan terbaik, tersadar hal tersebut, Kojiro memilih untuk ngelakon budeg alias pura-pura tuli. Kojiro memilih hal tersebut demi mengerem dirinya tidak emosi. Selain itu, ia dapat memaksimalkan waktunya untuk mengurusi lahan sisa warisan dan lahan milik kaisar yang di percayakan padanya untuk di kelola.
Dalam waktu tiga tahun saja, Kojiro beserta keluarganya berhasil mengangkat martabat keluarganya, meski tidak menyerupai kesuksesan ayahnya dulu. Setidaknya, ia berhasil membuatnya menjadikan penguasa kecil dan di hormati para penduduk.

Cita cita Masakado Cerita Samurai Jepang

Masakado mendapatkan kehidupan yang dulunya ia cita-citakan. Istri cantik dan anak yang lucu, adik-adiknya hidup mandiri, para penguasa tanah yang tinggal di sekitar wismanya memilih berkongsi padanya. Kini, ia bukan lagi Kojiro kecil miskin dan tak punya kekuatan. Kojiro kecil yang menjelma menjadi Masakado telah menjadi lelaki dewasa yang di segani dan di hormati banyak orang. Banyak dari para abdi dan nyawa yang menggantungkan nyawa padanya. Mereka rela mati demi Masakado.

Masakado yang sekarang menang sudah jauh berbeda seperti saat ia kecil, namun pengalamannya selama di ibukota tak cukup membuatnya berubah dari sifat konyol dan lugu. Ia mewarisi karakter jujur mendiang ayahnya. Ia merasa semua orang tidak mungkin berkelakuan buruk, padahal, ia melihat para bangsawan ibukota banyak bejatnya. Hal ini yang kemudian membuat kenyamanan keluarga besarnya mulai terusik. Kini ia mulai akrab dengan darah, kematian, keputusasaan dan cinta.

Psikologis Masakado

Kyoko, istri Masakado, beserta anaknya yang baru berumur dua bulan dan belasan pengawal tewas saat Sadamori dan pasukannya menyerang di persembunyiannya. Saat itu terjadi, Masakado dan pengawalnya sedang bersembunyi di dalam goa. Mengetahui anak dan istrinya tewas, ia nekat keluar dari persembunyian menuruni gunung, gerakannya seperti longsor besar. Psikologis Masakado benar-benar terhantam. Usahanya membangun kembali dinasti mendiang ayahnya sudah hancur lebur di lahap api peperangan, kini, anak dan istrinya meninggal. Senyum yang dulunya selalu terkembang telah hilang, bibir yang terkatup, mata sayu penuh amarah dan raut muka penuh dendam kini identik dengan Masakado.

Masakado dan pasukannya yang tersisa kembali ke wisma keluarganya yang terbakar habis. Banyak orang mendengar kalau ia masih hidup dan berniat membalas dendam. Berbondong-bondong para kesatria dan penguasa daerah lain bersimpati padanya, bergabung membentuk aliansi besar. Kini, jumlah pasukannya telah dua kali lipat.

Bagi pembaca yang sudah menamatkan novel Taiko dan Musashi, jangan terlalu berharap banyak scene heroik pada novel ini. Novel ini idealnya sebagai pengantar para pembaca menamatkan kedua novel di atas.

Kritik

1. Kualitas terjemahan perlu di tingkatkan
2. Jeda setiap scene terlalu cepat dan kurang mendetail, terkesan hanya menceritakan benang merahnya saja. Sisi baiknya, ceritanya lugas. Meski hal ini lumrah di temui dalam buku-buku tebal karangan Eiji Yoshikawa lainnya, tetap saja saya kurang suka.
3. Kalimat pengganti beberapa kurang tepat sehingga mengaburkan makna kalimat

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *