Cerpen Wasiat Misterius

  • Bagikan
Cerpen: Wasiat Misterius
Temuilah aku sebentar. Kalau nanti kamu mulai tak nyaman berbincang denganku, tulislah sebuah pesan wasiat misterius.

Cerpen Wasiat Misterius – Seraya menangis, Joko mengambil surat wasiat dari ayahnya. Ia masih tidak percaya Anwar meninggalkan ibu dan dirinya begitu cepat. Padahal, bulan depan adalah ulang tahunnya yang ke enam belas. Sudah tujuh tahun ia merayakan ulang tahun sendiri. Biasanya, ia diajak ayahnya ke toko buku dan menonton film di bioskop. Kini, ia menjadi anak yang pendiam dan pemarah. Melati, ibunya, sangat terpukul melihat kondisi Joko yang seperti itu, apalagi Anjas, suami barunya itu bingung memposisikan dirinya, ia sadar jika tidak mungkin menggantikan Anwar secara utuh. Beruntung, Anjas adalah lelaki yang penyabar.

Cerpen Wasiat Misterius, Surat wasiat itu berada di dalam kaleng bekas roti, ada tiga lembar kertas dengan tulisan yang cukup panjang. Joko sangat marah ke ibunya. Mengapa surat wasiat dari Ayahnya baru ia terima, padahal ia meninggal tujuh tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan.

Cerpen Wasiat Misterius

“Orang tua gila, mengapa baru sekarang? Kau membuat kenanganku dengan ayah menyeruak Kembali,” gumamnya pada Melati.

Tiga hari ia tidak keluar dari kamar. Saat jam makan tiba, dari balik pintu, Anjas dan Melati membujuk agar Joko mau keluar dari kamar dan makan bersama dengan mereka.

“Maafkan Ibu, Nak. Wasiat dari Papamu memang seperti itu. Surat wasiatnya hanya boleh diberikan menjelang kamu ulang tahun yang ke enam belas tahun. Tolong kamu pahami perasaan Ibu juga!” Tangisan melati terdengar dari balik pintu.

Joko tahu bahwa Ibunya sedang menangis, hatinya tambah terpukul. Semenjak Ayahnya meninggal, hanya Ibunya lah yang membuatnya ceria dan semangat belajar.

“Maafkan aku, Ibu,” gumamnya.

Anjas memegang pundak istrinya, menyuruhnya untuk kembali ke meja makan dan bersabar.

“Ma, berikan waktu untuk Joko menyendiri. Hatinya masih emosional, Ia butuh ketenangan.”

“Nak, makanan dan minuman, kita letakan di meja samping pintu, ya.” Kemudian Anjas dan istrinya beranjak ke meja makan.

Selang satu jam kemudian, Joko membuka pintu dan mengambil makan malamnya. Ia duduk di bawah rak bukunya yang menjulang sampai ke atap kamarnya.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Halo, Joko, anak kesayangan Papa. Bagaimana kabarmu hari ini?

Saat kamu membaca surat ini, pasti kamu sudah besar, ya? Bagaimana, sudah berhasil menulis cerpen berapa banyak? Tembus media mana saja? Aku harap, kamu masih semangat menulis, seperti saat Papa temani kamu dulu.

Joko meneteskan air mata. Ia sangat kangen dengan Papanya.

Ngobrol dari mana dulu ya, Nak? Aku bingung … Bagaimana kabar Ibumu? sehat dan tetap cantik seperti biasanya kan.

Joko berpindah dari di bawah rak buku ke samping meja belajarnya, ia menyalakan lampu belajar dan mengambil snack di samping lemari.

Saat itu aku sedang menghadiri acara bedah buku, kebetulan pemantiknya adalah Fajar, salah satu sahabatku. Kamu tahu dia kan, Nak? Bagaimana kabar Fajar sekarang?

Aku duduk di luar ruangan sambil merokok dan membaca buku. Terdengar acara begitu meriah, peserta bedah buku sangat antusias mendengarkan Fajar menjelaskan bagaimana suku asli Amerika terusir dari tanah kelahirannya sendiri karena proyek pembuatan bendungan yang diprakarsai Presiden Kennedy. Peserta diskusi banyak yang bertanya, aku rasa, Fajar dapat menjawab semuanya, dia bukan hanya pintar, tapi juga jujur. Nak, Papa harap kamu jadi anak yang jujur juga, ya!

Setelah acara selesai, kita berdua tidak langsung pulang, beberapa peserta bedah buku ingin bertanya lebih lanjut ke Fajar yang kini bergabung denganku di meja luar ruangan. Sangat senang melihat para mahasiswa/i antusias seperti itu.

Cerpen Wasiat Misterius

Esoknya, aku bekerja seperti biasa. Membuka toko buku, membersihkannya dan berharap banyak pelanggan datang. Oh ya, bagaimana toko bukunya sekarang, Nak?

Sampai di sini, aku berhenti membaca.  Pikiranku teringat dengan Papa, dan sekarang aku sedang membaca surat misterius ini. Sungguh sangat aneh, membaca surat dari orang yang telah meninggal, dan Papa begitu yakin bahwa surat ini tidak akan salah alamat. Orang seisi rumah sudah kutanyai, mereka kompak menjawab belum pernah membaca satu patah kata pun.

Seingatku, waktu itu sedang duduk seraya membaca majalah Horison. Memikirkan perseteruan Emha dengan Arif Budiman perihal sastra harus membebaskan atau tidak. Para sastrawan itu ada saja, padahal mereka sudah memiliki karir yang bagus.

Sekilas, aku memandang kios sebelah milik Pak Hanafi. Ada calon pembeli datang, dua perempuan yang tampaknya sedang menawar buku Sosiologi. Saat aku melihat mereka, salah satu dari mereka, perempuan berjilbab merah melihatku. Mungkin dia tidak sengaja, atau bisa jadi ia kaget kalau sedang aku perhatikan.

Kau tahu, Nak? Aku merasa perempuan itu juga sedang memperhatikanku, terus menerus, membuatku menjadi salah tingkah.

Perempuan itu, mungkin agak pendek dariku. Tidak terlalu gemuk, dan usianya kurang lebih hampir sebaya denganku. Pandangan matanya itu, Nak, membuat semua orang yang melihatnya tersihir. Rasanya seperti diundang agar mendekatinya dan berbisik memperkenalkan diri. Ya, itu yang Papamu rasakan, Nak.

Cerpen Wasiat Misterius

Nak, yang paling membuatku takjub saat perempuan itu melempar senyum padaku. Gila, benar-benar gila. Mengapa senyumnya sok akrab denganku, sok kenal dan mengundang. Tapi, Nak, kadang aku juga berpikir: Apakah senyum itu karena ada sesuatu yang salah dengan diriku, penampilanku mungkin, atau mukaku yang kusut karena belum mandi? Mungkin saja. Ya, aku tidak boleh baper.

Aku tidak berani menatapnya. Aku pura-pura membaca majalah. Gobloknya, majalahnya terbalik, dan dia menertawaiku. Harusnya aku malu, namun perasaan itu berbeda. Aku sangat senang melihatnya tertawa. Wajahnya bersinar, laksana matahari menyambut pagi.

Aku berbalik dan masuk ke kios, menutup tubuhku dengan tumpukan buku. Parahnya, aku malah terjatuh karena tergesa-gesa. Ratusan kilo buku menimpa tubuhku yang mungil. Saat itu, harusnya kamu membantu untuk bangun dan merapikan buku, Nak, tapi waktu itu bertahun-tahun sebelum kamu lahir.

Gara-gara diselimuti rasa malu, aku pun diam di tumpukan buku. Akupun tidak berharap ada yang menolongku, siapapun itu, apalagi perempuan itu.

Aku merasa air mataku menetes. Aku berpikir ini adalah surat pengakuan yang dibuat Papa tentang masa mudanya. Wajar jika orang lain tidak boleh membacanya, apalagi Ibu.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Hari Kamis di pertengahan Maret. Cuaca di luar kamar hujan deras, padahal ini belum musim penghujan. Aku jadi ingin berziarah ke makam Papa dengan Ibu. Pasti Ia sangat kangen dengan kami berdua. Maaf, Papa.

Telapak tanganku berkeringat. Belum ada setengah halaman, aku harus terus membacanya. Barangkali aku akan menuliskan surat balasan. Tapi untuk siapa? Aneh.

Apa pentingnya Papa menuliskan surat percintaannya dengan perempuan lain? aku masih gagal paham. Cara memandang seorang perempuan saja dipermasalahkan, kurang kerjaan saja.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Minggu pagi yang dingin menjadi hangat lantaran Fajar mengetuk pintu rumahku, ia mengajakku menemaninya hadir di acara bedah buku.

“Bangun woi! Temenin aku ke Cafe Kafka, acara mulai jam 9 pagi,” teriak Fajar dari balik pintu. “Jadi pemateri lagi ta?” sahutku. “Ndak, cuman jadi moderator,” jawabnya.

Parkiran Cafe yang dikenal sebagai tongkrongan sastrawan muda itu tampak penuh. Kita memilih parkir di masjid sebelahnya. “Semoga aman,” ujar Fajar.

Acara tampak meriah, selain banyaknya peserta, aktifnya peserta menjadi nyawa tersendiri jalannya bedah buku. Ya, pemuda ya harus begitu lah.

Aku memilih duduk di dekat taman, tidak terlalu bising dan cukup sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang mengerjakan tugas, membaca buku dan berpacaran. Tiba-tiba perempuan di depanku mendongkak dari buku yang sedang dia baca dan matanya menatapku langsung. Tepat di depanku, skak mat! Dia melempar senyum yang segar buatku, dan itu sungguh senyum yang sangat manis, Nak. Rasanya, Candi Borobudur bakal lumer melihat senyumnya.

Itu perempuan di kios buku. Aku tidak ada pilihan lagi, Nak, aku harus menghampirinya sekarang juga. Mumpung Ia sedang sendirian. Aku berjalan santai ke mejanya, jarak kita terpaut tiga meja, anehnya langkah kaki ini tak kunjung sampai. Sial, apa aku ketakutan?!

Kami hanya diam, saling memandang tanpa bicara. Tiba-tiba merasa menjadi orang asing. Dia menatap mataku, cukup lama, satu menit saling pandang, kuberanikan diriku untuk tidak menghindar. Kuperhatikan kelopak matanya bergetar. Seolah sorot matanya bertanya padaku: ‘Hai, kamu ingat denganku? Aku perempuan di toko buku itu.’

Cerpen Wasiat Misterius

Lengan kiri kuletakkan di atas meja, seketika dia meletakkan tangannya di atas tanganku. Kami saling pandang dengan kedua tangan yang bergandengan.”

Aku mulai terpengaruh dengan cerita yang Papa tulis. Sudah dua kali Ia bertemu dengan perempuan misterius itu. Mereka jarang berbicara, tapi sudah bergandengan tangan. Ini aneh. Ganjil. Jangan-jangan, Papa pernah menjalin berhubungan dengan perempuan tidak jelas. Amoral.

Apakah Papa hanya berkhayal? Apa ini hanya cerita khayalan? Mungkin perempuan itu hanya imajinasinya Papa. Tidak mungkin ia menjalin hubungan dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan Ibu. Entah kisah ini bohong atau sungguhan, yang jelas Papa sangat terpikat dengan perempuan ini.

Papa, karena waktu yang yang terlalu singkat, membuatku tidak begitu baik mengenalmu. Sekarang, lanjutkanlah ceritamu itu.

Joko, anak kesayangan Papa. Kamu tidak bosan dengan ceritaku, kan? Setelah perjumpaan itu, aku mulai mencari siapa perempuan itu. Aku tidak mau dihantui olehnya.

Aku dua kali berjumpa dengan dirinya, itu terjadi di hari minggu, benda yang sama saat Ia pegang adalah buku. Kira-kira apakah ada hubungannya hari minggu dengan buku, Nak?. Aku berpikir, mungkin perempuan ini adalah pemilik toko buku, persis denganku. Atau, ia hanya pembaca buku biasa, seperti mahasiswi pada umumnya.

Oke, sekarang aku punya teori. Aku akan bertemu dengan perempuan ini minggu depan di toko buku. Aku sangat paham toko buku mana saja di toko ini. Itu soal gampang, kalau tidak bertemu dengannya, aku berpindah tempat saja ke toko lain.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Lelaki aneh, gampang sekali membuat kesimpulan hanya dengan dua kali pertemuan. Kenapa saat itu tidak bertanya nama dan alamat rumah? Bukankah itu sangat gampang?!

Apa dugaanku selama ini benar? Cerita ini hanya karangan dari Papa. Imajinasinya terlalu liar, sedikit konyol. Hei, tapi siapa sosok perempuan itu? Gila, penasaran sekali aku dengannya. Hai perempuan misterius, siapakah dirimu? Dari mana asalmu?

Terdengar suara ketukan dari balik pintu, “nak, bagaimana?” Ibu bertanya. “Aku baik-baik saja,” kataku. “Sudah ya, jangan ganggu aku dulu.”

Sepertinya Ibu tidak menjawab, kemudian berkata, “Ibu tidak suka kamu mengurung diri begini, Nak.”

“Lah, apa gunanya memiliki kamar kalau tidak digunakan untuk menyendiri?!” kataku. “Apakah kamar hanya digunakan untuk tidur?”

Ibu tidak menjawab. Mungkin Ia kesal.

“Sekarang aku mau enam belas tahun, Bu. Bukan seperti anak-anak lagi.”

Terdengar Ibu sedang menarik nafas dalam-dalam, Ia pasti sedang gusar. Kemudian suasana menjadi tenang.

Aku tidak mengatakan ke Ibu jika sedang membaca cerita tentang perempuan misterius yang membuat Papa kesemsem, Aku yakin isi dari surat ini tidak pernah diceritakan padanya. Jadi, aku berkewajiban untuk merahasiakan cerita ini. Tidak boleh ada yang tahu.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Aku tidak tahu dia ke toko buku Wilis dengan siapa, kemudian kulihat ada lelaki yang berbicara dengannya. ‘Siapa lelaki itu’ batinku, mereka berbincang sangat akrab, mungkin mereka berteman dan secara kebetulan bertemu di toko buku. Aku terus mengamati mereka dari balik rak buku yang khusus memajang buku-buku sosial politik.

Ia berjalan turun ke lantai satu. Aku terus mengikutinya. Di bawah sedang acara launching buku yang dihadiri sastrawan kawakan, Yoshikawa. Kursi yang disediakan panitia tampak penuh, banyak peserta launching buku dan pengunjung yang berdiri mencuri pandang ke panggung. Dari semua peserta itu, pandanganku hanya tertuju ke perempuan berjilbab biru yang sore itu mengenakan jaket pink. Perempuan yang tiga minggu ini membuat tidurku tak nyenyak.

Berdesakan, aku berjalan ke depan, mencari celah agar dapat berdekatan dengannya. Kini jarak ku dengannya kurang dari dua meter. Aku menoleh ke belakang, seraya senyum mengucap ‘selamat sore’ padanya.

Dia terkejut atau mungkin pura-pura begitu. Ketika tersenyum, lesung pipinya menambah kadar kecantikannya. Dia menjawab, “Iya, Mas.”

Kemudian kami berdua berjalan ke parkiran. Entah setan apa yang merasukiku, dengan beraninya mengajaknya jalan. “Mau ke Bara Coffe? Ada makanan yang enak, barangkali kamu mau mencoba?”

Cerpen Wasiat Misterius

Setelah selesai makan, dia tidak mau di antar pulang. Bodohnya, aku lupa menanyakan siapa nama dan di mana ia tinggal. Sial, batinku.

Taksi datang dan menjemputnya pulang. Dari balik jendela ia melambaikan tangan seraya tersenyum. Sungguh manis, senyum yang dapat membuat seisi dunia lumer. “Hai, aku cinta padamu.”

Nak, menurutmu Papa harus bagaimana? Tidak lama setelah taksi itu pergi, aku bergegas menaiki sepeda motor dan mengejarnya. Naas, aku terjebak di tengah kemacetan kota, lagi-lagi aku kehilangan jejaknya, Nak.

Baru setengah cerita yang kubaca, aku mau ke toilet dulu. Perutku sakit sekali, tak tahan mengeluarkan si tai.

Sialnya, aku harus keluar kamar, jalan melewati ruang makan dan dapur; di sana pasti ada Ibu dan Ayah. Tapi mau bagaimana lagi. “Kamu sudah baikan, Nak.” tanya Ibu. Bagaikan pertanyaan besar. “Isi suratnya tentang apa, boleh Ibu tahu?”

“Apa isinya menyedihkan, Nak?” sela Ayah. Aku rasa itu hanya pertanyaan basa-basi saja. Ia ingin lebih dekat denganku, tapi maaf, aku tak mau menjawabnya. Aku rasa ia adalah lelaki beruntung yang mendapatkan perempuan sebaik Ibuku. Lubuk hatinya yang terdalam, mungkin ia sangat senang atas kematian Papaku.

“Kenapa tidak menjawab, suratnya masih panjang ya?” sela Ibu.

“Ya,” kataku. Kemudian aku bergegas ke toilet dan kembali ke kamar.

Ibu sudah memasuki kepala empat, dia adalah perempuan yang baik dan mandiri. Sifat keibuannya membuat lelaki mana pun akan sangat nyaman berada di sampingnya. Sulit membayangkan yang Ibu rasakan saat ini, setelah kehilangan suaminya, Ia harus menerima kondisiku yang berubah. Suka menyendiri dan tak banyak bicara. Tentu ini bukanlah salah Ibu.

Aku mengambil surat itu dan melanjutkan membaca.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Saat aku tidak mencarinya, tiba-tiba dia datang ke kios. Ia duduk di depan pintu, menghalangiku. Kami sama-sama diam. “Akhirnya kamu datang juga. Kau tau, sejak pertama kali bertemu denganmu. Aku sudah jatuh cinta. Perasaan ini menyiksaku, tapi aku berkata jujur. Ku harap kau mau menjawabnya.”

“Apa kau serius?” ia menjawab.

Kau tahu, Nak. Tubuhku rasanya ingin ambruk, seolah ia menyihirku dengan pandangannya. Ia berhasil melucutiku tanpa perlawanan. “Ya, aku serius. Kalau kau tak percaya, nanti malam aku akan bertemu Ibumu,” ucapku penuh percaya diri. Nak, kau harus tahu bahwa Papa mengatakan itu dengan jujur dan sadar.

“Hmmmm. Baiklah.” Ia menjawab singkat seraya mengangkat kedua bahunya.

Perasaanku sangat girang, Nak. Tubuhku rasanya enteng sekali. Ada perasaan gembira yang seumur hidupku belum pernah kurasakan. Perasaan ini benar-benar gila. Rasanya saat itu aku ingin teriak karena kelebihan cairan endorfin di dalam otak. Papamu saat itu terlampau bahagia.

Cerpen Wasiat Misterius

Perempuan itu kemudian berdiri. Ia menyapa laki-laki yang datang dari arah kios Pak Nugroho. Ia bangkit menghampirinya, tampak sedang mengobrolkan sesuatu. Tentu ini teka-teki yang harus dipecahkan. Pertama, aku terlanjur mengutarakan perasaanku namun nama perempuan itu belum ku ketahui. Kedua, siapa lelaki itu? Sudah dua kali aku melihatnya. Nak, kau harusnya datang membantu Papa mengurai masalah ini.

Kemudian Ia berbalik ke arahku. “Nanti malam aku tidak bisa, mohon tunggu dua bulan lagi. Kau tidak usah mencariku karena aku akan datang sendiri. Ke sini, ke kios mu.” Kemudian aku balik bertanya, “mengapa harus menunggu selama dua bulan?” Si perempuan itu hanya menjawab, “Kamu harus sabar, jika kamu benar-benar mencintaiku, tunggu dua bulan lagi aku datang ke kiosmu.” Lantas Ia pergi dengan lelaki itu.

Nak, peraturan macam apa ini. Saat aku sangat percaya dapat menikahinya, tiba-tiba ia memberikan ujian seperti ini.

Lelaki itu menyapaku pamit. “Monggo, Mas. Kita pergi dulu.” Aku hanya diam. Perasaanku berkecamuk, aku sangat marah, Nak. Marah pada diriku sendiri. Sejauh ini, aku telah gagal dalam banyak hal. Menjadi pengecut, tak percaya diri dan kalah. Aku takut Ia hanya mempermainkanku.

Dua minggu telah berlalu, Nak. Dua bulan terlalu lama bagiku. Aku sudah tidak sabar melihatnya lagi, bertemu dengan orang tuanya, meminta izin agar anaknya dapat aku peristri.

Selama dua bulan itu juga, aku tidak pernah menutup kios. Ketika orang-orang pulang, kiosku masih buka. Berharap di tengah malam Ia datang. Melemparkan senyum nya yang membuat seisi dunia lumer.

Cerpen Wasiat Misterius

Ketika sedang penasaran-penasarannya dengan cerita itu, Ibu mengetuk pintu. “Nak, sudah jam dua belas malam. Kamu apa tidak makan?”

Aku menjawab dengan keras, “Wahai perempuan misterius, bisakah kau tidak menggangguku. Aku belum selesai.”

Tidak terdengar suara dari balik pintu. Namun, kemudian kudengar Ibu seperti bernyanyi,

“…perempuan misterius yang membuat banyak lelaki hilang akal….”

Ibu tidak melanjutkannya, yang terdengar hanya suara rintihan tangis. “Ibu kenapa? tanyaku.”

“Nak, apakah Papamu menulis itu?”

“Kenapa?” jawabku dengan jengkel.

Ibu tidak menjawab, tapi aku tahu kalau ia sedang bersandar di balik pintu seraya menangis. Aku tak tahu apa yang Ia tangisi. “Apakah Ibu sudah tahu isi surat ini?” batinku.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Nak, sepertinya surat ini harus dipersingkat. Waktu Papa sudah mulai habis.

Setelah menikah. Ya, aku berhasil menikahi si perempuan misterius itu, Nak. Kamu senang, kan? Akhirnya apa yang ku cita-citakan berhasil.

Kami tinggal di rumah kontrakan. Papa memilih meninggalkan rumah nenekmu agar dapat belajar hidup mandiri. Lelaki harus begitu, Nak. Kau harus tanggung jawab dengan pilihanmu.

Aku terkejut. Jika cerita ini benar terjadi. Berarti Papa menikah dua kali. Bisa saja aku memiliki saudara lain dengan beda Ibu. Kalau ini benar dan Ibu tahu sejak awal, pantas ia tadi menangis.

Demi menyulam kebutuhan hidup yang semakin besar, kini aku juga menjadi penulis di beberapa media lokal dan nasional. Upahnya memang tidak banyak, namun cukup untuk operasional harian. Pelanggan yang datang ke kios juga cukup banyak. Selain itu, aku sangat senang karena ia sering membantu ku berjualan. Kau tahu, Nak? selain ia cantik, minat bacanya juga sangat tinggi.

Nak, aku akan membocorkan rahasia untukmu. Setelah cukup lama menjalani profesi sebagai penulis, aku ditendang dari media karena ketahuan melakukan plagiasi. Naskah-naskah yang selama ini kukirimkan mendapat masalah. Karirku menjadi penulis hancur. Sekarang aku hanya mengandalkan pemasukan dari jualan buku.

Cerpen Wasiat Misterius

Tapi, Nak. Meski aku gagal menjadi penulis. Setidaknya aku berhasil menulis surat ini untukmu. Surat yang Papa tulis dengan jujur.

Di Tengah kondisi ekonomi yang seperti itu, kami memiliki seorang anak yang lucu. Kami sangat bahagia, terutama dia. Namun ini menjadi babak baru buatku, Nak. Apakah aku bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga hanya dengan berjualan buku?

Oh, tidak tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal jelek di tengah kebahagiaan yang Tuhan berikan.

Seraya menggendong bayi, ku cium keningnya. “Mam, terimakasih telah memilihku menjadi suamimu.”

Nak, aku harap kamu tidak marah denganku, ya? Setelah membaca surat sederhana ini, kau tahu siapa sebenarnya Papamu. Jika surat ini mengandung kebaikan, ambillah. Jika tidak, mulai sekarang berhentilah membaca dan buang kertas ini ke sampah.

Nak, aku sangat kangen denganmu. Ingin rasanya sekali lagi berbicara denganmu. Bukan lagi antara ayah dan anak, melainkan obrolan antar lelaki dewasa.

Nak, waktunya sudah hampir habis. Ingin sekali kupegang tanganmu seraya menuliskan akhir dari cerita konyol ini. Aku takut kehilanganmu, terlebih meninggalkan Ibumu sendirian. Terlepas Papamu ini dikata gagal sebagai suami. Kalian berdua adalah belahan jiwaku.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Dari sekian kenangan dengan Papa. Momen yang paling ku ingat saat ia menggendongku di kebun binatang, menjelaskan padaku nama-nama hewan dan jenis makanan yang Ia santap.

Sebelum selesai membaca surat ini sampai akhir, aku hanya berpikiran bahwa ini hanya sebuah surat pengakuan yang Papa tulis tentang perempuan lain. Sifatnya yang rahasia, tidak boleh ada yang tahu termasuk Ibu.

***

Cerpen Wasiat Misterius

Selasa pagi, aku merasa itu adalah hari yang sangat berat. Waktu berpisah dengan kalian semakin dekat.

Nak, ingat. Jika Ibumu menikah lagi, hargailah keputusannya. Ibumu perlu sosok lelaki yang melindunginya, dan itu tidak mungkin Papa lakukan saat ini.

Ibumu akan memilih lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Jika saat kau membaca surat ini Ia sudah menikah lagi. Aku yakin, Nak. Lelaki itu bernama Anjas Asmara. Lelaki yang dulu bertemu dengan ibumu di toko buku Wilis dan menjemputnya di depan kiosku.

Kau tidak perlu risau, apalagi berburuk sangka denganku.

Papamu ini adalah lelaki setia. Tidak mungkin terlintas dalam pikiranku mengkhianati keluarga.

Masalah siapa perempuan misterius itu siapa? Ia adalah ibumu sendiri. Melati Septianingtias Setiari.

Cerpen Wasiat Misterius

  • Bagikan
Exit mobile version