Cerpen Nepotisme Vaksinasi

  • Bagikan
cerpen nepotisme Vaksinasi
Hubungan darah dan keluarga masih menjadi penentu seseorang dalam mendapatkan jabatan. Lantas, bagaimana Islam memandang praktik nepotisme dalam kekuasaan? Rasulullah SAW pernah dituduh berlaku nepotisme. Dalam HR Bukhari,

Cerpen Nepostisme Vaksinasi – Karjo sampai rumah tepat setelah adzan maghrib bersahut-sahutan. Saat karjo memarkirkan sepeda motornya dekat tanaman lidah buaya, kemudian anaknya (umur 11 bulan) memanggil namanya dari balik pintu dengan nada yang belum sempurna. “Pappp … papppp ..”. Karjo hanya melempar senyum, ia lantas bergegas mandi dan shalat maghrib.

Kemudian, pandemi membuat lingkungan d tempat Karjo tinggal sepi aktivitas. Biasanya, kalau sehabis maghrib sampai jam sepuluh malam waktunya anak-anak kecil dan para bapak-bapak dan ibu-ibu bermain kemudian mengobrol dan sahut-sahutan lelucon garing. Namun sekarang, hanya tukang bakso dan penjual nasi goreng yang keliling kampung, mereka tak pernah lelah memukul kentongan yang ada di gerobaknya.

Selesai shalat, Karjo menyeduh jahe panas dan memakan pisang goreng yang ia beli d perjalanan pulang. Karjo memangku anaknya sambil bercerita sama istrinya kalau masuk mall sekarang harus mempunyai kartu vaksin, Alhasil  membuatnya kesulitan masuk mall, padahal ada barang penting harus ia beli.

Mendengar Karjo cerita sertifikat vaksinasi membuat Fatimah, istrinya, ikut bercerita. Sedangkan Karjo belum selesai bercerita.

Cerpen Nepostisme Vaksinasi

Istrinya bercerita kalau tadi siang ia melaksanakan progam vaksin dengan target pesertar 200 orang baru berjalan setengah hari, atas instruksi Kepala Puskesmas, faktanya kuota peserta vaksinasi dtambah seratus peserta. Untuk target peserta vaksin yang ia suntik total menjadi 300 peserta yang harus diselesaikan Fatimah bersama kawan-kawan kerjanya.

Kemudian Karjo meletakan anaknya di atas lantai, setelah itu membiarkannya ngesot kemana saja. Sepertinya itu yang anaknya tadi rewelkan, ia ingin bebas, tidak ingin dikekang.

Cerpen Nepostisme Vaksinasi

Mimik muka Fatimah kelihatan sangat memerah dan tampak kesal, terutama saat bercerita kalau wifi balai desa Boyomendol tidak bisa dakses peserta. Parahnya lagi, kawan-kawannya yang bertugas tukang input data tak mau berbagi hotspot. Sehingga dengan sangat kesal, memang ia harus merelakan hotspotnya dikeroyok delapan laptop. Sehingga membuat tambah kesal lagi, ketika itu Kepala Puskesmas mengabarkan menambah kuota peserta di tengah perjalanan vaksinasi.

Karena itu bnyaknya peserta vaksinasi hadir, tenaga kesehatan (Nakes) yang terbatas dan lemotnya koneksi internet saat melakukan pendaftaran, alhasil peserta vaksinasi langsung mendapatkan suntikan tanpa harus screening terlebih dahulu. Sehingga mereka bergiliran satu per satu untuk dsuntik dtemani semilir angin sepoi desa Boyomendol.

Sementara itu, Peserta yang sudah dsuntik dan hasil evaluasi tidak ada masalah akan bergantian ke meja screening untuk entry data.

Kemudian, Salbiyah, Bidan senior yang duduk dsebelah Fatimah tiba-tiba membuat stand screening hening. Ia bertanya ke Fela, peserta vaksinasi yang duduk di hadapannya apakah sudah pernah vaksinasi Covid-19 belum?

Fela menjawab belum pernah melakukan vaksinasi.

Sebelum itu Salbiyah menarik nafas dalam-dalam, “Mbak Fela, saya bicara by data, lho. Jika belum pernah melakukan vaksinasi Covid-19, kok nama anda ada di daftar peserta vaksinasi desa Kedungmangkrak, Kabupaten Dasawisma. Bukankah itu tempat tinggal Mbak Fela, kan?

Cerpen Nepostisme Vaksinasi

Fela menunduk. Dari balik masker yang dikenakannya, ia tampak gugup dan ketakutan.

“Kenapa, Mbak? Jawab dong. Mbak Fela benar sudah vaksinasi, kan?”

Dengan menunduk, lau Fela menjawab pelan-pelan kalau dia sudah melakukan vaksinasi Covid-19 dosis 2 di tempatnya.

“Memangnya Mbak Fela, Nakes?” Salbiyah melanjutkan.

Fela menggelengkan kepalanya.

“Ouuhh tidak yaa”.

“Mbak Fela. Kenapa gak jujur dengan kita? Sudah vaksinasi masih ikut lagi. Kenapa? Ada apa?”

Salbiyah yang kesal menembakinya dengan pertanyaan demi pertanyaan.

“Mbak Fela tahu! Booster hanya diperkenankan untuk para Nakes. Sebelumnya karena Mbak Fela hari ini ikut vaksinasi, sisanya nanti kita kasihkan siapa? sehingga kan eman jika terbuang. Ini yang seharusnya menjadi hak orang lain malah Mbak Fela ambil.”

Fela hanya menunduk diam. Kemudian Salbiyah masih dalam posisinya, menelanjangi Fela dengan tatapannya yang menakutkan.

Selanjutnya, Fela terselamatkan oleh antrian yang semakin mendesak maju. Salbiyah kembali ke tugasnya, ia hrs melayani dengan tulus dan ramah meski kesal dengan peserta yang modelnya seperti Fela tadi.

Cerpen Nepostisme Vaksinasi

“Lhoo, bukannya itu kesalahan kalian. Kenapa tidak melakukan vaksinasi sesuai alur?” sanggah Karjo.

“Kamu ini, suasana di lapangan benar-benar padat. Saya dan kawan-kawan terkendala jaringan yang jannnnn, edan lemote. Karena itu garda terdepan bagi kita untuk bisa menyuntikan dosis vaksin ke mereka.”

“Namun tetap saja kalian yang salah.”

“Ngawurrr, ya salahnya Kepala Puskesmas dong, udah tahu di tengah perjalanan malah nambah kuota.” Fatimah kesal karena disalahkan suaminya.

“Memangnya kamu berani menyalahkan Kepala Puskesmas? Hmmmm. Berani?”

“Ya gak mungkin lah.”

Kemudian Lantas pasangan suami istri itu tertawa bersama. Menertawakan ketidakmampuan mereka mencegah hal itu terjadi.

“Yaaaa. Itu bukan ada pada lingkar pengaruh kita, Mam,” jawab Karjo.

Cerpen Nepostisme Vaksinasi

Pukul empat sore lebih lima menit, para Nakes melakukan koordinasi dalam rangka evaluasi. Karena Ada beberapa hal yang harus dibenahi, salah satunya memastikan jaringan wifi balai desa atau lembaga yang akan dituju dapat beroperasional dengan baik.

“Eh, Mbak yang tadi itu namanya Fela, ya?” tanya Bu Ida ke kawan-kawannya.

Selanjutnya para Nakes yang sedang mengemasi barang saling toleh, menanti kejelasan pertanyaan itu ditujukan ke siapa.

“Iya, Bu. Benar.” Jawab Salbiyah.

“Hmmmm. Dia itu peserta titipannya dokter Braon.”

Kemudian kini semua mata tertuju ke Bu Ida. Sadar banyak kawannya yang penasaran, Bu Ida melanjutkan.

“Dia di sini sedang melakukan penelitian skripsi. Ia asli Kedungmangkrak, Kabupaten Dasawisma. Kemudian ibunya adalah teman kuliahnya dokter Braon yang sekarang dinas d Rumah Sakit Ciraos. Dan lagi Ayahnya kepala dinas di Kabupaten Dasawisma. Memang dasarnya dari keluarga mampu dan banyak privilege.”

Salbiyah dan yang lain bengong mendengar penjelasan darr Bu Ida.

“Lha kok Bu Ida tahu sedetil itu dari mana?” tanya Kudus.

“Lhooo, dokter Braon sendiri yang cerita ke aku kok.”

Kok penak ngene ya. Bojoku entok tak wenehi booster gak yo?”

“Memang Boleh kok, Mbak Salbiyah. Namun asal sampeyan jadi kepala dinas dulu.”

Pecah tawa mereka.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *