5 Novel Terbaik Tentang Sejarah Indonesia Yang Wajib Dibaca!

  • Bagikan
Novel tentang sejarah indonesia
Rekomendasi Novel Berlatarkan Kisah Kelam Sejarah Indonesia. picture by unsplash

Novel tentang sejarah indonesia – Kini belajar sejarah bangsa Indonesia tidak hanya dengan membaca buku-buku yang di ajarkan saat sekolah. Apalagi kita Hidup di zaman dengan sumber informasi yang dapat di akses bebas dan murah seperti sekarang. Faktanya, karya-karya fiksi dan youtube menjadi media alternative seseorang mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi pada masa lalu.

Karya Fiksi seperti roman, novel, cerpen dan puisi banyak menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Pasalnya, dengan membaca karya fiksi, pembaca dengan mudah di ajak berimajinasi mengarungi peristiwa sejarah Indonesia, mulai dari lokasi, tokoh dan peristiwanya.

Bagi saya, membaca sejarah Indonesia melalui karya-karya fiksi adalah jalan alternatif dan membahagiakan. Selain menambah pengetahuan, penulisan yang tidak kaku dan kontekstual menjadikan pembaca nyaman membuka lembar demi lembar.

Berikut rekomendasi novel sejarah indonesia yang membahas tentang sejarah Indonesia.

1. Tetralogi Pulau Buru – Pramoedya Ananta Toer

Biografi Pramoedya Ananta Toer, Sang Maestro

Rasanya tidak mungkin bercerita sejarah Indonesia dengan tidak menyebutkan sang maestro sastrawan besar tanah air, Pramoedya Ananta Toer. Hampir semua karangannya mengangkat tema sejarah Indonesia. Hal itu dapat kita temukan pada buku Nyanyi Seorang Bisu, Gadis Pantai, Jalan Raya Pos dan Perburuan.

Pram dalam setiap karyanya menggunakan bahasa yang lugas, tidak terlalu banyak diksi. Riset yang luas dan detail di gunakannya sebagai senjata utama menyampaikan sakitnya di tindas tanpa harus memutar dan berbelit.

Tidak takjub jika Pram di labeli sebagai penulis terbaik yang di miliki Indonesia. Bahkan sampai hari ini belum ada penulis yang menyaingi produktivitas dan pengaruh dari karya-karyanya di tatanan sosial budaya.

Pram tercatat memiliki 38 karya yang berhasil di terbitkan. Tetralogi Pulau Buru yang di tulis selama pengasingannya menjadi karya monumentalnya. Ada empat buku yang wajib di baca secara berurutan yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru menceritakan sosok priyayi Jawa bernama Raden Tirto Adhi Suryo (TAS). Sosok ini adalah tokoh pertama yang di kenal sebagai pelopor pers di Hindia Belanda. Dalam novel Bumi Manusia, Minke atau TAS adalah seorang pemuda yang menentang nilai-nilai kepriyayian dan ingin keluar dari lingkaran tersebut.

Novel sejarah indonesia

Sosok yang di citrakan pintar dan pemberani ini berjuang melawan penjajahan kolonial tanpa menanggalkan sikap sopan dan rendah hati. Hal tersebut terbukti saat Minke menentang titah dari Bapaknya yang notabene adalah seorang Bupati.

Sebagai anak muda, Minke memiliki prinsip yang belum kuat dalam memegang dan memandang sebuah dunia, hal tersebut yang kemudian membuatnya sadar bahwa yang selama ini ia lakukan kurang tepat.

Cerita Minke yang sadar bahwa sudut pandangnya melihat dunia selama ini kurang tepat banyak di ceritakan pada buku kedua Tetralogi Pulau Buru, Jejak Langkah. Ia bertemu dengan Annelies Mellema, perempuan hasil buah cinta pergundikan Indonesia Belanda. Pernikahannya dengan Annelies menjadikan Minke tak lagi menganggap peradaban Barat dan Eropa bagus.

Pada buku kedua, kita akan melihat bibit perlawanan Minke melawan kebenciannya terhadap sistem penjajahan yang di lakukan Pemerintah Kolonial. Ia melawan dengan menulis essay yang kemudian di muat di koran “Medan Prijaji”, hal tersebut kemudian membuatnya memiliki banyak dukungan dari masyarakat dan tokoh-tokoh pribumi

Minke tidak hanya menulis untuk melawan, ia turut aktif dalam organisasi serta di jadikannya alat menumpas budaya feodal dan penjajahan yang di lakukan para priyayi yang berkolaborasi dengan pemerintah kolonial.

Rumah Kaca adalah karya terakhir dari Tetralogi Pulau Buru. Judul rumah kaca sebenarnya adalah anekdot dari Arsip. Mengapa? ia menyimpan semua informasi yang tertulis dan terdokumentasi. Arsip menjadikan sosok Minke di kenal dan membuatnya memiliki banyak pengagum serta loyalis yang rela mati untuknya. Namun, dari pengagum itulah Minke di bungkam. Ia tidak tahu jika Jacques Pangemanan, sosok yang selama ini mengaguminya adalah polisi yang sedang menyamar.

Bagaimana, sudah terbayang dengan keseruan dari keempat novel novel Pramoedya Ananta Toer?

2. Menolak Ayah – Ashadi Siregar

Menolak Ayah - Ashadi Siregar

Lahir dari pasangan Abdul Aziz Siregar dan Ibu Ny. Aziz Siregar pada tanggal 3 Juli 1945 di Pematang Siantar, Sumatera Utara ini adalah sosok penulis jebolan Sospol UGM. Ia kemudian melanjutkan sekolah dan menjadi dosen di almamaternya.

Kiprahnya dalam pers saat menjadi pemimpin redaksi mingguan Sendi, koran tersebut kemudian hanya sanggup mengeluarkan 13 edisi karena menjadi korban pembredelan Pemerintahan Soeharto.

Dalam sinopsis buku Menolak Ayah, pembaca di hantamkan dengan penggalan kisah seorang lelaki yang mengabaikan istri dan anaknya. Ia meninggalkan penderitaan bag istri dan anaknya. Pantaskan ia masih di anggap sebagai ayah?

Novel tentang sejarah indonesia

Hubungan seorang anak dan ayah selalu menarik untuk di tulis, dengan mengangkat latar sejarah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di tahun 1957-1965. Kondisi ekonomi dan sosial politik setelah Indonesia merdeka yang belum stabil memunculkan ketidakpuasan di daerah-daerah. Mereka merasa tidak di perhatikan oleh Pemerintah pusat. Bangunan-bangunan pasca perang yang rusak terkesan di biarkan dan tidak inisiasi untuk pembenahan. Bagi pengikut PRRI gerakan ini di ilhami sebagai perjuangan, sedangkan Soekarno lebih menilai hal itu adalah pemberontakan.

Tondinhuta (Todi) adalah anak yang di tinggalkan ayahnya dari kecil ke Jakarta. Sesampainya di sana, ayahnya membuang nama marga yang melekat di belakang namanya itu. istrinya, hanyalah penjual gorengan di bawah jembatan rel kereta api. Ia sangat setia kepada suaminya dan memilih untuk tidak menikah lagi. Hal di tengarai karena ia di tinggalkan tanpa perceraian.

Bagaimana, sudah terbayang keseruan membaca novel Menolak Ayah? novel terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini dapat kalian beli di toko-toko buku di kota kalian.

3. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari

Setiap pengarang memiliki karya yang di anggap masterpiece, tak terkecuali dengan Ahmad Tohari. Budayawan dan Sastrawan kelahiran 13 Juni 1948 ini menamatkan pendidikan SMA di Purwokerto, Jawa Tengah. Sejak pertama kali di terbitkan di tahun 2003, novel Ronggeng dukuh paruk tiga kali mengalami pergantian cover di mana terbitan terakhir terbagi menjadi tiga buku.

Hal yang sangat keren dari penulis-penulis senior Indonesia, dan sekarang jarang di temukan adalah kontroversialnya novel yang ia tulis. Hal tersebut di pengaruhi kondisi sosial politik setiap zaman yang berbeda dan isi daripada novel yang di tulis menghentak isu atau peristiwa getir yang wajib di ketahui masyarakat Indonesia.

Ronggeng Dukuh Paruk pernah di larang beredar oleh Pemerintah Indonesia, di anggap membahayakan karena banyak menceritakan hal tabu, terutama dapat memicu kesadaran kelas di tataran masyarakat. Pemerintah kan tidak mau di ganggu, para penulis di anggap berisik. Penulis di bungkam.

Secara umum, novel ini berkisah tentang perempuan bernama Srintil dari Dukuh Paruk yang berprofesi sebagai penari. Ada pertalian budaya di mana seorang ronggeng tidak di perkenankan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Namun tidak bagi Srintil, ia tidak dapat menjauhkan ingatannya dengan Rasus, lelaki yang di taksir itu sudah lama menghilang dari Paruk. Cintanya yang teramat besar ke Rasus membuat Srintil selalu ingin melawan aturan-aturan budaya yang ada di masyarakat. Sikapnya yang seperti itu membuat kepribadiannya berangsur berubah.

Eka Kurniawan di lain kesempatan, mengatakan bahwa Ahmad Tohari adalah penulis yang Indonesia sekali. Istilah tersebut berangkat dari detil cerita yang khas pedesaan, mulai dari sosial budaya dan karakter tokohnya. Sangat wajar jikalau pembaca karya-karya Ahmad Tohari menganggap lokasi di setiap karya yang ia tulis memang ada di Indonesia.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk sangat saya rekomendasikan bagi pembaca yang ingin mengetahui sisi lain dari sejarah merah bangsa ini.

4. Max Havelaar – Multatuli

Max Havelaar - Multatuli

Ia adalah Eduard Douwes Dekker, di kenal masyarakat Indonesia dan dunia dengan nama pena Multatuli, persis dengan yang ada di cover buku itu. Berkebangsaan Belanda dan bekerja sebagai Asisten Residen di Banten semasa Pemerintahan Kolonial Belanda. Lahir 2 Maret 1820 di Amsterdam dan meninggal 19 Februari 1887 Jerman. Oleh dunia internasional, khususnya Belanda, ia di anggap sebagai pahlawan Hak Asasi Manusia (HAM), di Indonesia sendiri ia di anggap sebagai pencetus gerakan perlawanan pribumi terhadap sistem feodal priyayi jawa dan kebengisan Pemerintah Kolonial memperlakukan negara jajahannya.

Meski dianggap sebagai pahlawan HAM internasional, akhir hidupnya terbilang tragis. Ia dan keluarganya lari ke Jerman demi mendapatkan bantuan agar ia dapat berobat. Kehidupan di Belanda tidak membuatnya aman dan nyaman, beberapa kalangan menyudutkannya karena di anggap pengumpat dan penghianat yang tidak setia kepada kerajaan Belanda. Demi mengenang jasanya, rumahnya di jadikan perpustakaan di mana di depan pintu masuk terdapat patung dirinya.

Multatuli menulis novelnya di tahun 1850 an, mengisahkan kejamnya penindasan dan penghisapan para priyayi terhadap pribumi dan para pejabat ke para priyayi. Hal tersebut yang kemudian menjadikan lingkaran setan sistem feodal. Novel Max Havelaar pertama kali terbit di Belanda pada 1860, kemunculannya di anggap sebagai aib penjajahan yang dilakukan Belanda di Indonesia, hal ini sekaligus menjadikan dunia internasional mengecam kerajaan Belanda. Buntut panjangnya, kerajaan Belanda menerapkan politik etis di Hindia Belanda.

Bagaimana, sudah tertarik untuk membacanya?

5. Orang-Orang Oetimo – Felix K Nesi

Orang-Orang Oetimo - Felix K Nesi

Setelah Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma terbitan Bentang Budaya membahas tentang konflik di NTT. Felix, mahasiswa alumni Universitas Negeri Malang ini mengeluarkan sebuah novel yang sangat ciamik. Novel pemenang utama sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018 ini menceritakan NTT di tahun 1990 an. Isu yang Felix angkat di novelnya cukup sentimental, yakni ras, agama, politik dan budaya. Sekali lagi, jarang-jarang ada penulis timur Indonesia yang sekeren dia.

Sebuah wilayah kecil di NTT pada paruh kedua 1990 an, banyak terjadi kejadian yang berdampak dengan kehidupan sosial masyarakat di kampung-kampung kecil. Praktik kolonialisme di Indonesia Timur yang sering di sorot dunia internasional, merembet ke kekerasan antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin ikut menyebar ke wilayah sekitar. Demonstrasi ke pemerintahan Soeharto juga menyebar ke pelosok NTT, di gawangi para mahasiswa dan buruh kota.

Bagian yang paling gokil dari novel ini, Felix seolah berubah menjadi Varga Llosa. Plot yang meloncat menceritakan penjajahan Portugis sampai Jepang menjadi buktinya. Keren parah. Belum lagi saat Tentara Nasional Indonesia menduduki Oetimo. Semua hal itu berhasil Felix tuliskan secara detail, lugas dan berbobot.

Felix, dalam membuat tokoh rekaannya berhasil mengejawantahkan kesedihannya atas penyalahgunaan jabatan di Indonesia, mulai dari jabatan publik sampai kepercayaan kepada tokoh agama.

Novel sejarah indonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *